Edukasi Farmasi & Kesehatan

Mengapa Review Pengguna Bukan Bukti Efektivitas Obat

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
August 31, 2026 5 min read
Mengapa Review Pengguna Bukan Bukti Efektivitas Obat
Photo by Unsplash

"Saya minum obat ini lalu sembuh.” Benarkah itu membuktikan obatnya ampuh? Kenali placebo effect, bias, dan alasan testimoni belum menjadi bukti efekti..."

Mengapa Review Pengguna Bukan Bukti Efektivitas Obat

      Awalnya saya sudah mencoba macam-macam. Setelah minum ini tiga hari, keluhan saya hilang. Kalimat seperti itu mudah ditemukan di TikTok, Instagram, atau platform media sosial lainnya. Videonya mungkin ditonton ratusan ribu kali. Kolom komentar segera dipenuhi pertanyaan:

·       Nama obatnya apa?

·       Belinya di mana?

·       Bisa untuk penyakit saya juga?

      Pengalaman orang dalam video tersebut mungkin benar. Ia tidak harus sedang berbohong atau melebih-lebihkan. Bisa saja ia memang merasa jauh lebih baik setelah menggunakan produk tersebut.

Tetapi di sinilah kita perlu membedakan pengalaman pribadi dengan bukti ilmiah. Jika seseorang mengatakan, “Saya minum obat X, kemudian saya sembuh,” kita dapat menerima bahwa kedua peristiwa tersebut memang terjadi berurutan. Namun, ilmu pengetahuan masih harus menjawab pertanyaan berikutnya: Apakah kesembuhan tersebut benar-benar disebabkan oleh obat X?

      Perbedaan kecil dalam kalimat itu sangat penting, karena menjadi dasar mengapa review pengguna—meskipun jumlahnya ratusan atau ribuan—tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa suatu obat efektif.

Testimoni Adalah Pengalaman, Bukan Eksperimen

      Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang banyak belajar dari pengalaman orang lain. Teman mengatakan suatu restoran enak, kita mungkin tertarik mencoba. Seseorang mengatakan suatu sepatu nyaman, kita mungkin mempertimbangkan membelinya. Namun, ketika menyangkut obat dan kesehatan, persoalannya menjadi lebih kompleks. Pernyataan: Saya membaik setelah minum obat X tidak otomatis sama dengan: Saya membaik karena obat X.

      Dalam bahasa penelitian, hal ini berkaitan dengan perbedaan antara hubungan waktu atau temporal association dengan hubungan sebab-akibat atau causation. Ketika dua kejadian berlangsung berurutan, kita mudah menganggap kejadian pertama menyebabkan kejadian kedua. Padahal mungkin ada berbagai faktor lain yang ikut berperan.

      Inilah alasan ilmu kedokteran dan farmasi menggunakan kelompok pembanding, randomisasi, dan desain penelitian tertentu untuk membuktikan efektivitas dan keamanan suatu obat. Tujuannya bukan karena pengalaman pasien dianggap tidak penting, tetapi untuk menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh pengalaman individual saja. Apa yang mungkin terjadi jika orang tersebut tidak menggunakan obat tersebut? Tanpa pembanding, pertanyaan itu sulit dijawab. 

Mengapa Seseorang Bisa Membaik Setelah Minum Obat yang Belum Terbukti?

      Ada beberapa alasan mengapa seseorang benar-benar merasa lebih baik setelah menggunakan suatu produk, meskipun kita belum dapat memastikan bahwa produk tersebutlah penyebabnya.

1. Penyakit memang dapat membaik sendiri

      Banyak penyakit memiliki natural course atau perjalanan alami. Batuk-pilek akibat infeksi virus, misalnya, pada banyak orang akan membaik seiring waktu. Beberapa keluhan nyeri juga dapat berfluktuasi—hari ini berat, beberapa hari kemudian berkurang. Jika seseorang mulai menggunakan suatu produk tepat ketika penyakit tersebut sebenarnya mulai menuju fase perbaikan, maka produk tersebut mudah dianggap sebagai penyebab kesembuhan.

      Urutannya memang: minum produk → beberapa hari kemudian membaik. Tetapi belum tentu: minum produk → menyebabkan perbaikan. Inilah salah satu alasan penelitian membutuhkan kelompok kontrol.

2. Placebo effect dapat memengaruhi gejala yang dirasakan

      Harapan terhadap pengobatan dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan gejalanya. Dalam ilmu kesehatan dikenal placebo effect, yaitu perubahan yang berkaitan dengan ekspektasi, pengalaman sebelumnya, pembelajaran, dan konteks terapi. Review di New England Journal of Medicine menjelaskan bahwa efek placebo merupakan fenomena neurobiologis dan psikologis yang nyata, terutama dapat memengaruhi luaran subjektif seperti nyeri atau gejala tertentu.

      Namun, penting membedakan antara placebo effect dan sekadar placebo response. Perbaikan yang terlihat pada seseorang setelah mendapat terapi dapat merupakan gabungan dari efek ekspektasi, perjalanan alami penyakit, regression to the mean, perubahan perilaku, dan berbagai faktor lain. Karena itu, mengatakan “saya merasa lebih baik” tetap merupakan informasi nyata, tetapi belum menjelaskan faktor mana yang menyebabkan perbaikan tersebut.

3. Regression to the mean: gejala ekstrem cenderung kembali mendekati rata-rata

      Konsep ini terdengar teknis, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang biasanya mencari pengobatan ketika keluhannya sedang berat. Misalnya, nyeri lutut yang biasanya berada pada skala 4 tiba-tiba menjadi 8. Saat itulah ia mencoba produk yang direkomendasikan di media sosial.

      Beberapa hari kemudian nyerinya kembali ke skala 4 atau 5. Ia kemudian menyimpulkan: “Obat ini luar biasa. Nyeri saya turun dari 8 menjadi 4.” Padahal sebagian penurunan tersebut mungkin terjadi karena gejalanya memang sedang berada pada titik ekstrem dan kemudian kembali mendekati kondisi biasanya.

      Fenomena di atas yang disebut regression to the mean. Literatur metodologi klinis menekankan bahwa pengukuran yang sangat ekstrem cenderung menjadi lebih mendekati nilai rata-rata ketika diukur kembali, bahkan tanpa intervensi. Tanpa kelompok pembanding, efek ini mudah disalahartikan sebagai keberhasilan terapi.

4. Seseorang mungkin menggunakan beberapa terapi sekaligus

      Review di media sosial sering kali menyederhanakan cerita. Setelah minum obat ini saya sembuh. Namun, kita belum tentu mengetahui bahwa orang tersebut juga:

  • menggunakan obat lain,
  • tidur lebih cukup,
  • memperbaiki pola makan,
  • berhenti merokok,
  • berolahraga,
  • mengurangi stres,
  • atau mendapat terapi medis lainnya.

Jika berbagai faktor berubah bersamaan dengan penggunaan obat, kita sulit menentukan apakah perbaikan benar-benar disebabkan oleh obat tersebut atau oleh faktor lain. Dalam penelitian, faktor lain yang berhubungan dengan paparan sekaligus luaran dan dapat mengaburkan hubungan keduanya dikenal sebagai confounder atau faktor perancu.

5. Respons setiap orang berbeda

      Bahkan obat yang terbukti efektif melalui penelitian klinis tidak selalu menghasilkan respons yang sama pada setiap pasien. Usia, genetik, berat badan, fungsi ginjal dan hati, penyakit penyerta, obat lain, kepatuhan, dan banyak faktor lainnya dapat memengaruhi respons terhadap terapi. Karena itu, pengalaman seseorang tidak otomatis dapat dipindahkan kepada orang lain. Kalimat: Saya cocok tidak berarti: Anda pasti cocok.

6. Diagnosis awal mungkin tidak tepat

      Ada pula kemungkinan seseorang mengira mengalami penyakit tertentu padahal penyebab keluhannya berbeda. Misalnya, ia menyebut dirinya maag, asam urat, alergi, atau infeksi, padahal belum pernah mendapatkan diagnosis yang jelas. Jika diagnosis awal saja belum pasti, semakin sulit menggunakan pengalaman tersebut untuk menyimpulkan efektivitas suatu obat terhadap penyakit tertentu.

Mengapa 1.000 Testimoni Positif Belum Sama dengan Uji Klinis?

      Pertanyaan berikutnya mungkin muncul: Kalau hanya satu orang memang belum cukup. Tetapi bagaimana jika ada seribu orang mengatakan produk tersebut berhasil? Jumlah yang banyak tentu terasa lebih meyakinkan. Namun, ada persoalan lain: siapa yang muncul dan siapa yang tidak terlihat?

      Orang yang mendapatkan hasil sangat baik mungkin lebih terdorong membuat video. Sebaliknya, pengguna yang tidak mengalami perubahan mungkin hanya berhenti menggunakan produk tanpa membuat konten. Sebaliknya, pengguna yang tidak mengalami perubahan, berhenti menggunakan produk, atau mengalami efek yang tidak diinginkan belum tentu mempunyai kecenderungan yang sama untuk membuat dan menyebarkan konten. Ada juga orang yang mencoba produk tetapi tidak merasa pengalaman tersebut cukup menarik untuk dibagikan. Akibatnya, yang kita lihat di media sosial dapat merupakan sampel yang terseleksi, bukan gambaran semua pengguna.

      Fenomena di atas berkaitan dengan selection bias dan reporting bias. Bayangkan 10.000 orang menggunakan suatu produk. Seratus orang merasa mengalami perubahan yang sangat dramatis dan 50 di antaranya membuat video. Video-video itu kemudian viral. Sebagai penonton, kita melihat puluhan cerita keberhasilan. Tetapi kita tidak melihat ribuan orang lain yang tidak mengalami perubahan, berhenti menggunakan produk, atau bahkan mengalami efek yang tidak diinginkan.

      Karena alasan di atas, 1.000 testimoni bukan sama dengan penelitian terhadap 1.000 orang. Dalam penelitian, siapa yang masuk, siapa yang keluar, bagaimana hasil diukur, serta bagaimana kegagalan dan efek samping dicatat harus dilakukan secara sistematis. Testimoni tidak memiliki struktur tersebut.

Bagaimana dengan Dokter, Apoteker, atau Influencer Kesehatan?

      Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah, bagaimana jika rekomendasi tersebut datang dari dokter, apoteker, atau seseorang yang memiliki latar belakang kesehatan? Kredensial tentu penting. Seseorang yang mempunyai pendidikan dan kompetensi sesuai bidangnya umumnya lebih mampu memahami konteks klinis dan menilai informasi kesehatan dibandingkan seseorang tanpa kompetensi terkait.

      Namun, ada prinsip lain yang perlu diingat,  kredensial penting, tetapi kredensial bukan pengganti evidence. Sebuah klaim tentang efektivitas obat tetap perlu dinilai berdasarkan sumbernya. Ketika melihat konten kesehatan, perhatikan beberapa hal:

1.     Apakah pembicara menjelaskan dasar ilmiah klaimnya? 

2.     Apakah referensinya dapat diperiksa? 

3.     Apakah penelitian yang disebut benar-benar mendukung klaim tersebut? 

4.     Apakah ia mengatakan bahwa obat “pasti berhasil”, “tanpa risiko”, atau cocok untuk semua orang?

5.     Perhatikan pula kemungkinan konflik kepentingan.

6.     Apakah pembicara mendapatkan bayaran, produk gratis, komisi afiliasi, atau memiliki hubungan komersial dengan produk tersebut?

      Transparansi mengenai hubungan semacam ini penting. Federal Trade Commission di Amerika Serikat, misalnya, mensyaratkan agar influencer mengungkapkan hubungan material dengan merek, dan menegaskan bahwa testimoni maupun endorsement tidak dapat digunakan untuk membuat klaim kesehatan yang tidak memiliki bukti ilmiah memadai.

      Dalam konteks Indonesia, persoalan ini bahkan semakin relevan. BPOM melalui PerBPOM Nomor 7 Tahun 2026 memperketat aturan promosi dan iklan obat. Dalam konteks Indonesia, promosi dan iklan obat juga tunduk pada ketentuan PerBPOM Nomor 7 Tahun 2026 tentang Promosi dan Iklan Obat. Karena itu, rekomendasi obat melalui media sosial tidak dapat diperlakukan semata-mata sebagai konten biasa apabila telah masuk dalam ranah promosi atau iklan obat.  Artinya, popularitas maupun status seseorang di media sosial tidak otomatis menjadikannya sumber informasi terapi yang dapat diikuti tanpa verifikasi.

Jadi, Apakah Review TikTok Tidak Berguna Sama Sekali?

      Tidak. Menganggap semua pengalaman pasien tidak berguna juga merupakan kesimpulan yang terlalu jauh. Pengalaman pengguna dapat memberikan informasi mengenai bagaimana rasanya menggunakan suatu produk, kenyamanan sediaan, rasa, kemudahan penggunaan, masalah kepatuhan, atau efek yang dirasakan. Pengalaman pasien bahkan mempunyai nilai penting dalam farmakovigilans. Laporan mengenai kejadian yang tidak diinginkan setelah penggunaan obat dapat menjadi sinyal keamanan yang kemudian perlu dievaluasi lebih lanjut.

      Dengan kata lain, pengalaman pasien dapat menghasilkan pertanyaan atau sinyal, tetapi tidak selalu dapat memberikan jawabannya. Ini juga berlaku untuk media sosial. TikTok, Instagram, dan platform lainnya dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan. WHO menjelaskan bahwa digitalisasi dan penggunaan media sosial memungkinkan informasi menyebar lebih cepat; kondisi ini dapat membantu memenuhi kebutuhan informasi, tetapi juga dapat memperkuat penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan. Karena itu, peningkatan literasi kesehatan dan literasi digital menjadi bagian penting dalam menghadapi infodemic.

      Jadi, persoalannya bukan apakah informasi berasal dari TikTok. Pertanyaannya adalah: seberapa baik informasi tersebut dapat diverifikasi? 

Sebelum Percaya Review Obat, Tanyakan Lima Hal Ini

      Ketika menemukan video yang mengatakan suatu obat atau produk kesehatan “ampuh”, masyarakat dapat menggunakan lima pertanyaan sederhana.

1.     Siapa yang berbicara?
 Apakah ia pengguna biasa, tenaga kesehatan, influencer, atau penjual produk?

2.     Apa yang sebenarnya diklaim?
 Apakah hanya menceritakan pengalaman atau menyatakan bahwa produk dapat menyembuhkan penyakit tertentu?

3.     Apa sumber buktinya?
 Apakah ada penelitian yang dapat diperiksa atau hanya kumpulan testimoni?

4.     Apakah ada kepentingan komersial?
 Apakah konten tersebut merupakan iklan, endorsement, afiliasi, atau promosi berbayar?

5.     Apakah informasi tersebut berlaku untuk kondisi saya?
 Obat yang sesuai untuk seseorang belum tentu tepat bagi orang lain, terutama bila diagnosis, penyakit penyerta, usia, kehamilan, atau obat yang digunakan berbeda.

      Jika setelah melihat review Anda tertarik mencoba suatu produk, jangan berhenti pada videonya. Cari sumber yang lebih kredibel dan konsultasikan kepada apoteker dan  dokter, atau tenaga kesehatan lain bila keputusan tersebut berkaitan dengan pengobatan. Dan jika produk tersebut kemudian akan dibeli secara online, pertanyaan berikutnya bukan hanya “apakah ampuh?”, tetapi juga apakah produk itu legal, asli, bermutu, dan berasal dari kanal penjualan yang benar.

Dengarkan Pengalaman, tetapi Putuskan Berdasarkan Bukti

      Pengalaman pribadi bukan sesuatu yang harus dianggap bohong atau tidak penting. Seseorang dapat benar-benar merasa sembuh setelah menggunakan suatu produk. Namun, dari pengalaman itu saja kita belum dapat mengetahui apakah perbaikan terjadi karena efek obat, perjalanan alami penyakit, efek placebo, regression to the mean, terapi lain, perubahan gaya hidup, atau kombinasi berbagai faktor.

      Karena itu, dengarkan testimoni sebagai pengalaman, bukan sebagai pengganti penelitian. Testimoni dapat menjadi cerita yang menarik dan pengalaman yang nyata, tetapi pengalaman satu atau seribu orang tidak menggantikan penelitian yang dirancang untuk membedakan kebetulan dari hubungan sebab-akibat.

Kesimpulan

      Pengalaman seseorang yang merasa membaik setelah menggunakan suatu obat dapat benar-benar terjadi, tetapi pengalaman tersebut belum membuktikan bahwa obat itulah yang menyebabkan perbaikannya. Perjalanan alami penyakit, placebo effect, regression to the mean, penggunaan terapi lain, perubahan gaya hidup, faktor perancu, hingga perbedaan karakteristik antarindividu dapat menghasilkan kesan bahwa suatu produk bekerja. Bahkan ratusan atau ribuan testimoni positif di media sosial tidak dapat disamakan dengan penelitian klinis karena orang yang memberikan testimoni bukanlah sampel yang dipilih dan dievaluasi secara sistematis, tidak terdapat kelompok pembanding, dan hasil maupun efek sampingnya belum tentu dicatat dengan cara yang terstandar.    

      Testimoni tetap dapat memberikan informasi mengenai pengalaman pasien dan bahkan dapat menjadi sumber awal sinyal keamanan obat, tetapi klaim efektivitas tetap harus dinilai berdasarkan bukti ilmiah yang memadai. Karena itu, dengarkan pengalaman pengguna sebagai informasi, tetapi ketika menyangkut keputusan pengobatan, putuskan berdasarkan bukti ilmiah dan pertimbangan tenaga kesehatan yang kompeten.

Baca juga artikel:

1.     Obat Viral Belum Tentu Efektif: Bagaimana Sains Membuktikan Khasiat Obat

2.     Beli Obat di Marketplace, Apakah Aman? Kenali Risiko Obat Ilegal dan Palsu

Daftar Pustaka

1.     Colloca L, Barsky AJ. Placebo and nocebo effects. N Engl J Med. 2020;382(6):554–561. doi:10.1056/NEJMra1907805.

2.     Benedetti F, Shaibani A. Placebo response and placebo effect: What is the difference? Neurol Clin. 2026;44(1):1–9. doi:10.1016/j.ncl.2025.08.001.

3.     McDonald CJ, Mazzuca SA, McCabe GP Jr. How much of the placebo 'effect' is really statistical regression? Stat Med. 1983;2(4):417–427. doi:10.1002/sim.4780020401.

4.     Federal Trade Commission. Health Products Compliance Guidance [Internet]. Washington (DC): FTC; 2022 [cited 2026 Aug 29].

5.     Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 7 Tahun 2026 tentang Promosi dan Iklan Obat. Jakarta: BPOM RI; 2026.

6.     World Health Organization. Infodemic [Internet]. Geneva: WHO; [cited 2026 Aug 29].

7.     Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Farmakovigilans — untuk mendukung bagian pengalaman pasien sebagai sinyal keamanan.